Kamis, 29 Mei 2014

Perkembangan Amerika Latin Pada Masa sebelum Perang Dunia II

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Amerika Latin adalah kawasan luas yang mencakup seluruh wilayah di belahan bumi barat di selatan Amerika Serikat. Wilayah ini terdiri atas Meksiko, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Kepulauan Karibia. Kawasan ini terbagi menjadi 52 unit politik, termasuk di antaranya 33 negara independen dan 19 dependensi. Brasil adalah negara terbesar di Amerika Latin, baik dari segi wilayah maupun populasi. Negara ini menempati sekitar dua-perlima dari luas Amerika Latin dan memiliki sekitar sepertiga dari total penduduknya.
Sebelum orang Eropa pertama tiba di Amerika Latin pada akhir abad ke-15, wilayah ini telah dihuni selama ribuan tahun oleh orang-orang yang sekarang disebut Amerindian, yang berarti Indian Amerika atau penduduk asli Amerika. Kelompok Indian seperti Aztec, Inca, dan Maya telah mengembangkan peradaban awal yang sangat maju di kawasan Amerika Latin dan mendirikan kota serta kerajaan pertama di sana.
Selama abad ke-16 dan 17, bangsa Eropa menaklukkan sebagian besar suku Indian dan mendirikan koloni-koloni. Segera setelah orang Eropa tiba, mereka mulai mengirim orang kulit hitam dari Afrika untuk dijadikan budak, terutama ke Kepulauan Karibia dan beberapa daerah pesisir daratan. Kekuasaan Eropa di Amerika Latin berlangsung sekitar 300 tahun. Ongkos kemanusiaan dan lingkungan dari kolonisasi ini sangat tinggi. Pemerintah Eropa mengambil sumber daya alam dari Amerika Latin dan memaksa orang Amerindian dan kemudian budak Afrika untuk bekerja pada mereka.
Amerika Latin memiliki warisan budaya yang kaya yang memadukan banyak pengaruh. Tidak seperti Eropa dan Amerika Serikat, Amerika Latin berkembang dari tahun 1400-an sebagai masyarakat campuran di mana orang Amerindian, Eropa, dan Afrika hidup berdampingan. Meskipun mereka berbeda, berbagai bangsa Amerika Latin bisa hidup dan bekerja sama selama ratusan tahun. Selama berabad-abad, orang kulit putih, Indian, dan orang kulit hitam melakukan perkawinan. Pada abad ke-19 dan 20, imigran Asia, Arab, Prancis, Jerman, Italia, dan Yahudi turut menyumbangkan tradisi budaya mereka ke Amerika Latin. Saat ini, kebanyakan orang Amerika Latin adalah keturunan campuran. Kebanyakan mereka adalah keturunan Indian dengan kulit putih atau keturunan kulit hitam dengan kulit putih.
Orang-orang dari Amerika Latin berbagi banyak tradisi dan nilai-nilai yang muncul dari warisan kolonial bersama mereka. Mayoritas orang Amerika Latin berbicara dalam bahasa Spanyol, Portugis, atau Prancis, yang masing-masing dikembangkan dari Latin. Bahasa Inggris atau Belanda adalah bahasa resmi di beberapa daerah yang dijajah oleh Inggris atau Belanda. Para ilmuwan masih berbeda pendapat untuk memasukkan daerah tersebut sebagai bagian dari Amerika Latin.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan Amerika Latin pada abad ke-19 ?
2.      Bagaimana jalannya militerisasi di Amerika Latin ?
3.      Apa saja pengaruh Amerika Serikat terhadap Amerika Latin ?
4.      Bagaimana Pengaruh The Great Depresion terhadap Amerika Latin ?
1.3              Tujuan
1.      Mengetahui tentang perkembangan Amerika Latin pada abad ke-19.
2.      Mengetahui dan memahami akan jalannya militerisasi di Amerika Latin.
3.      Mengetahui tentang Apa saja pengaruh Amerika Serikat terhadap Amerika Latin.
4.      Mengetahui tentang Pengaruh The Great Depresion terhadap Amerika Latin.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1       Perkembangan Amerika Latin Abad ke-19
Selama abad ke-16 dan 17, bangsa Eropa menaklukkan sebagian besar suku Indian dan mendirikan koloni-koloni. Segera setelah orang Eropa tiba, mereka mulai mengirim orang kulit hitam dari Afrika untuk dijadikan budak, terutama ke Kepulauan Karibia dan beberapa daerah pesisir daratan. Kekuasaan Eropa di Amerika Latin berlangsung sekitar 300 tahun. Ongkos kemanusiaan dan lingkungan dari kolonisasi ini sangat tinggi. Pemerintah Eropa mengambil sumber daya alam dari Amerika Latin dan memaksa orang Amerindian dan kemudian budak Afrika untuk bekerja pada mereka.
Amerika Latin memiliki warisan budaya yang kaya yang memadukan banyak pengaruh. Tidak seperti Eropa dan Amerika Serikat, Amerika Latin berkembang dari tahun 1400-an sebagai masyarakat campuran di mana orang Amerindian, Eropa, dan Afrika hidup berdampingan. Meskipun mereka berbeda, berbagai bangsa Amerika Latin bisa hidup dan bekerja sama selama ratusan tahun. Selama berabad-abad, orang kulit putih, Indian, dan orang kulit hitam melakukan perkawinan. Pada abad ke-19 dan 20, imigran Asia, Arab, Prancis, Jerman, Italia, dan Yahudi turut menyumbangkan tradisi budaya mereka ke Amerika Latin. Saat ini, kebanyakan orang Amerika Latin adalah keturunan campuran. Kebanyakan mereka adalah keturunan Indian dengan kulit putih atau keturunan kulit hitam dengan kulit putih.
Orang-orang dari Amerika Latin berbagi banyak tradisi dan nilai-nilai yang muncul dari warisan kolonial bersama mereka. Mayoritas orang Amerika Latin berbicara dalam bahasa Spanyol, Portugis, atau Prancis, yang masing-masing dikembangkan dari Latin. Bahasa Inggris atau Belanda adalah bahasa resmi di beberapa daerah yang dijajah oleh Inggris atau Belanda. Para ilmuwan masih berbeda pendapat untuk memasukkan daerah tersebut sebagai bagian dari Amerika Latin.
Nama Amerika Latin berasal dari pertengahan abad ke-19, ketika orang Eropa dan Amerika Serikat telah memperluas pengaruh mereka di belahan dunia lain. Nama ini digunakan untuk membedakan bagian dari Amerika yang awalnya dihuni oleh orang Eropa yang menggunakan bahasa Romawi (dikembangkan dari bahasa Latin, meliputi bahasa Spanyol, Portugis, dan Perancis), dengan bagian dari Amerika yang dihuni oleh orang Anglo-Saxon Eropa yang berbicara dalam bahasa Inggris.
Pemerintah di Amerika Latin telah berubah sejak abad ke-19. Pada awal abad ke-19, banyak koloni Amerika Latin merdeka dan menjadi republik. Republik ini mendukung ide-ide demokrasi, namun dalam kenyataannya mereka cenderung menciptakan kembali sistem kolonial dalam bentuk baru. Para pemimpin republik baru itu tidak memiliki pengalaman dan kecakapan untuk menangani masalah-masalah sosial dan ekonomi yang serius. Di beberapa negara Amerika Latin, diktator militer merebut kekuasaan pemerintah. Negara-negara lain diperintah oleh segelintir keluarga kuat yang menggunakan posisi mereka untuk meningkatkan kekayaan pribadinya. Selama awal dan pertengahan abad ke-20, protes anti-pemerintah dan revolusi berdarah terjadi di seluruh wilayah Amerika Latin. Pemimpin sipil dan militer mencoba untuk menciptakan stabilitas politik di wilayah tersebut. Namun dalam prosesnya, banyak pemimpin yang membatasi hak-hak sipil rakyat Amerika Latin. Meski demikian, pada awal tahun 2000-an, sebagian besar negara Amerika Latin telah mendirikan pemerintahan demokratis.
2.2       Faktor Militer dan Militerisasi di Amerika Latin
            Golongan militer merupakan faktor dinamisasi (bahkan faktor pendobrak) yang sangat menentukan dlam perjuangan melawan penjajah. Setelah perjuangan kemerdekaan selesai, mereka mengatur dirinya dalam organisasi – organisasi militer yang lebih sempurna. Setelah perang kemerdekaan yang dilanjutkan revolusi, atau perang saudara dalam negeri, golongan militer “military elite” merupakan satu – satunya golongan yang keluar dari kesulitan dengan organisasi dan disiplin yang jauh lebih baik dibanding dengan golongan politik atau partai – partai politik.
Semula, semua golongan militer di Amerika Latin berkeinginan langsung untuk memainkan fungsi politiknya pula. Namun setelah melalui beberapa kesulitan, akhirnya fungsi politik golongan militer dapat berangsur – angsur berubah menjadi fungsi militer professional hingga sekarang. Timbullah profesionalisme militer yang sekarang ada di Meksiko, dimana kekuasaan pemerintahan berada di tangan kekuatan sipil dan kekuasaan militer hanya merupakan unsur pembantu keamanan kepolisian.
Namun berbeda dengan Negara – Negara di Amerika Latin lainnya. Mereka berkeinginan terus mempertahankan politiknya di sektor – sektor social – politik tanpa melepaskan kedudukan dan fungsinya sebagai militer. Intervensi militer ini memiliki beberapa motivasi diantaranya :
1.      Motif politik, yakni rasa tanggung jawab untuk mengatasi suatu kemacetan politik yang disebabkan oleh pergolakan dari partai – partai politik.
2.      Motif ekonomis, yaitu ingin menyelamatkan bangsa dari kehancuran  ekonomi. Bahkan ada pula yang menggunakan motif ekonomis-materiil untuk kepentingan pribadi.
3.      Didukung golongan sipil yang memiliki kepentingan ekonomis-materiil tertentu, karena bila mereka yang melakukannya sendiri, dirasa kurang kuat.
4.       Suatu tradisi, yakni tradisi adanya intervansi militer atau coup – coup militer di Amerika Latin.
Coup ini dimulai dengan telepon dari jenderal infanteri kepada menteri pertahanan bahwa ia akan melakukan coup dan memerlukan dukungan dari menteri. Menteri pura – pura tidak tahu, tapi memberikan bantuan. Kemudian terjadi tembak menembak di istana, Presiden ditahan, terjadi perubahan kabinet atau dibentuk junta militer. Si menteri tetap selamat dan jederal pemberontakpun naik panggung pemerintahan dan terjadilah pembagian rejeki.
Coup ini masih diterima masyarakat  sebagai salah satu cara untuk melakukan perubahan politik secara drastis sebab :
1)      Rakyatpun telah terbiasa, seolah – olah merupakan tradisi.
2)       Golongan militer memilki akar yang sangat kuat dalam masyarakat, karena tanpa dukungan mereka coup tidak akan berhasil.
3)      Di kalangan masyarakat luas ada pandangan bahwa golongan militer adalah pengemban cita – cita nasional yang murni, pengemban nasionalisme dan patriotism, hingga entah bagaimana mereka perlu didukung.
4)      Rakyat yang umumnya melihat golongan militer sebagai suati “kubu terhadap ancaman Komunisme”.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa militerisme Amerika Latin mula – mula mengambil bentuk militerisme dari suatu Negara-kepolisian, di mana golongan militer dipergunakan oleh pemerintah untuk menghancurkan golongan anti-pemerintah. Namun lambat laun timbul bentuk – bentuk baru yakni :
a.       Militerisme fasis
Dengan timbulnya Fasisme Italia dan Naziisme Jerman, pengaruhnya menjalar pula ke Amerika Latin, dan mulai memasuki tubuh Angkatan Perang. Hal ini terjadi di kalangan militer Bolivia, Brasil dan Argentina.
b.      Militerisme tenokrat
Didukung oleh perwira – perwira muda yang maju karena hasil pendidikan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat Militerisme di Amerika Latin lebih mirip dengan apa yang ada di Spanyol, karena kesamaan sejarah. Militerisme Amerika Latin lahir dalam keadaan dimana rakyat tidak memilki sarana untuk menyalurkan tuntutan politik dan timbulnya oligharki dalam pemilikan tanah, yang memaksa golongan militer tampil ke depan melalui seorang caudillo, yakni seorang pemimpin/diktator militer yang memaksakan kehendaknya terhadap rakyat dalam mencapai ketertiban umum dalam abad 19 dan awal abad 20.
Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya terdapat dua macam lembaga militer, yakni :
1)         Bersifat politis, yakni dimana golongan militer memandang dirinya juga berfungsi politik dalam arti baik secara langsung maupun tidak langsung ikut dalam proses penentuan kebijaksanaan politik bangsa.
2)         Bersifat professional, yakni golongan iliter dibatasi hanya pada profesi militer teknis dan tunduk pada pemerintahan atau pimpinan politik golongan sipil. Seperti Meksiko yang telah memiliki militer bersifat professional.
Sedangkan untuk Angakatan Perang di Amerika Latin terdiri dari beberapa macam. Ada yang memiliki hanya dua structural yakni Angkatan Perang tetap dan kekuatan para militer yang keduanya dibawah pengawasan pemerintah. Kemudian ada pula yang memiliki tiga pola, yakni ditambah dengan “private army” yang dibiayai atau diorganisasikan oleh tuan – tuan tanah besar atau pejabat tinggi. Serta ada yang berpola empat, dengan tambahan pasuka gerilya, baik yang berada di bawah pengawasan pemerintah, maupun mereka yang berada di luarnya.
Satu – satunya yang tidak mempunyai Angkatan Perang adalah Costa Rica (sejak 1948), sedang Panama walaupun juga tidak memilki, tapi masih mempunyai “Nationl guard” dan golongan tersebut besar peranannya dalam penentuan kebijaksanaan pemerintah.


2.3       Pengaruh Amerika Serikat kepada Amerika Latin
Setelah upaya untuk mencapai kemerdekaan berhasil dilakukan oleh Negara Negara baru di Amerika latin muncul masalah kembali yakni ancaman imperialisme dari Negara Negara barat khususnya Spanyol. Pada tahun 1820-an, spanyol meminta bantuan kepada para sekutunya di eropa untuk menaklukkan kembali koloni koloninya di Amerika latin. Austria pun tertarik untuk membantu namun hal ini tidak disepakati oleh Inggris dan juga Amerika serikat.
Oleh karena itulah maka di tahun 1823, Inggris meminta Amerika serikat untuk membuat deklarasi bersama menentang intervensi Eropa ke Amerika Latin. Presiden amerika yakni James Monroe, pada akhirnya karena adanya permintaan Inggris mengeluarkan statment resminya di acara konggres tahunan tanggal 2 Desember 1823. Kebijakan tersebut adalah kebijakan untuk berpihak pada Negara negara Amerika latin. Pidato ini terkenal dengan nama ”doktrin Monroe”. Pada doktrin Monroe, ada empat prinsip dasar, yang cukup terkenal. Antara lain :
1.      Amerika serikta tidak akan mencampuri amsalh maslah internal ataupun peperangan di antara Negara eropa.
2.      Amerika serikat mengakui dan tidak mencampuri koloni yang masih ada di bawah keuasaan negara Negara eropa.
3.      negara Eropa harus menghentikan kolonisasi lebih lanjut
4.      Upaya apapun oleh Negara Eropa untuk menekan atau mengendalikan Negara manapun d dunia akan diapndang sebagai tindakan kekerasan melawan Amerika Serikat.
Pernyataan atau Doktrin Monroe ini mendapatkan dukungan dari Inggris dimana inggris telah mempersiapkan kekuatan angkatan lautnya yang cukup ditakuti karena jumlah dan kualitasnya yang cukup banyak dan baik. Dan dengan adanya doktrin Monroe ini hubungan amerika serikat dengan Negara amerika latin makin dekat karena ada persepsi bahwasanya amerika serikat telah membantu untuk melindungi kawasan amerika latin. Namun persepsi negatif dalam melihat sikap amerika Serikat terhadap kawasan Amerika latin pun juga muncul. Pemerintah Negara Negara amerika latin berfikir bahwa amerika serikat menggunakan doktrin monroe sebagai media untuk mendominasi benua amerika. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan investasi dari Amerika maupun sekutunya yakni Inggris yang meningkat setelah keluarnya doktrin Monroe.
Sikap dari amerika serikat yang begitu mencampuri urusan Amerika latin telah membuahkan pergolakan fisik antara amerika dengan Spanyol. Dimana dengan adanya insiden meledaknya kapal amerika maka sikap untuk bermusuhan dengan Spanyol muncul di benak rakyat Amerika dan akhirnya telah berhasil mengusir kekuatan Spanyol dari Kuba. Selain ekses yang diakibatkan oleh adanya perana yang begitru besar dari Amerika maka dalam pembuatan rancangan konsitusi Kuba tahun 1900, pihak amerika serikat memaksakan adanya satu dokumen yang terkenal yakni, Amandemen senator orville hitchcock platt (platt amendement). Dalam amndemen ini pihak amerika memberikan hak untuk dapat mencampuri urusan dalam Negeri dari negara kuba. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi harta dan benda serta warga Amerika serikat yang ada di Kuba. Tentu saja hal ini telah membuat pembatasan hak dari Kuba dalam meminta bantuan asing lainnya. Sekaligus tidak dapat untuk mencegah keinginan dari Amerika untuk membangun pangkalan angakatan lautnya di Kuba.
Interpestasi yang meluas dari doktrin monroe terjadi seiring dengan tampilnya aamerika serikat menjadi salah satu kekuatan dunia. Amerika mengkalim bahwasanya negara ini adalah polisi dunia. Sehingga negara Negara amerika latin ikut menjadi wilayah pengaruhnya serta menjadi penyumbang kekuatan dari Amerika secara finansial. Selain itu dengan adanya penginteprestasian yang meluas atas doktrin mempermudah upaya amerika serikat untuk mendapatkan akses sumber daya dari Negara amerika latin. Namun upaa Ameruika bukanlah tanpa ada tantangan dari negara negara kolonial lainnya atupun dari pemerintah Negara baru di Amerika Latin.
Untuk mendaptakan akses pelayaran yang cepat dan menguntungkan amerika menginginkan adanya pembangunan terusan panama, agar pelayaran dari merika serikat menuju lautan pasifik dapat dilakukan tanpa memutari amerika selatan. Presiden Roosevelt mengajukan ide untuk membangun terusan yang melintasi tanah genting panama, yang berada dibawah kekuasaan kolombia. Namun pemerintah Kolombia enggan memberikan hak pembangunan ini. Namun akal culas dari amerika dengan melakukan politk adu domba dengan mendorong rakyat panama untuk memberontak terhadap pemrintah kolombia telah membeku kan keinginan dari pihak pemerintah kolombia. Pembangunan terusan panama pun berhasil dilakukan pada tahun 1904. Tentu saja pembangunan ini membawa keuntungan pada pihak Amerika, tidak saja keuntungan secara ekonomi namun secra politis amerika diuntungkan. Selruh kawasan Amerika Latin dapat dikontrol oleh Amerika Serikat dengan adanya pembangunan terusan Panama.
Tahun 1930, merupakan tahun yang bersejarah bagi Negara Amerika Latin, karena di tahun inilah yang menjadi tahun titik balik dalam sejarah amerika latin. Ditandai dengan jatuhnya kekuatan oligarki dan adanya akselerasi proses modernisasi secara baik. Kelas menengah muncul dengan massif, perhimpunan dagang menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan, pun juga mulai menggeliat. Para pemimpin negara amerika latin yang mulai menyadari adanya kelemahan secara ekonomi dari negara negara ini adalah terlalu mengandalakn sektor ekspor bahan mentah dan komoditas muali melakukan pembangunan industrialisasi. Dan pembangunan industrialisasi telah membawa pengaruh yakni terciptanya akselerasi transformasi sosial. Hal ini ditunjukkan dengan ide untuk melakukan beberapa hal, yang antara lain : 1. pemisahan kekuasaan gereja dengan negara, 2. Perdagangan bebas, 3. perluasan hak pilih.

2.4       Pengaruh The Great Depresion terhadap Amerika Latin

            Tahun 1930an adalah tahun peristiwa mengenaskan mengenai depresi besar-besaran yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk negara super power, Amerika Serikat. Depresi ini terjadi begitu dahsyatnya sehingga menyebabkan melemahnya ekonomi, meningkatnya tingkat pengangguran, dan berbagai hal lainnya.
            Pemberlakuan Smoot-Hawley tariff di Amerika Serikat pada tahun 1930 menandakan era baru perekonomian negara ini. Kebijakan-kebijakan dalam Smoot-Hawley tariff bersifat proteksi perdagangan Amerika Serikat. Kebijakan proteksionis diharapkan berkontribusi positif terhadap penurunan ekstrim harga bahan mentah dunia. Selain itu,
Sementara itu, standart emas yang berlaku di hampir seluruh negara telah menghubungkan negara-negara tersebut melalui fixed currency exchange rates. Jaringan tersebut memainkan peran dalam menularkan krisis ke negara lain[1]. Dalam beberapa bulan kemudian, ketika pasar Amerika Serikat kollaps maka hal tersebut berpengaruh buruk kepada Argentina, Brazil, Canada dan Australia sebagai rekan dagang. Negara-negara tersebut akhirnya secara formal dan informal menghentikan standart emas di negaranya.
            Negara yang paling parah terkena dampak great depression ini selain Amerika Serikat adalah Jerman. Jerman mengalami hyperinflation sejak awal 1920an, otoritas moneter terhenti dalam berekspansi dan sektor perekonomian secara pasti melambat dengan sangat parah. Terpaan krisis yang tidak kunjung usai menyebabkan Jerman terpaksa mengalami suksesi pemerintahan dari koalisi The Center-Left yang kollaps kepada pemerintahan Heinrich Bruning, pemerintahan inilah yang pada akhirnya menjadi lahan subur bagi berkembangnya Komunisme dan Nazi.
            The Great Depression telah merubah perekonomian dunia dalam beberapa cara. Standart emas mengalami kehancuran pada saat itu. Meskipun nantinya setelah Perang Dunia II, fixed currency exchange rates kembali diberlakukan dibawah payung Bretton Woods system.[2] Meskipun dalam sistem Bretton Woods memakai standart emas, namun secara esensial sistem ini sebenarnya secara halus telah ikut campur dalam meletakkan ekonomi pasar pada standart Dollar. Dollar kemudian menjadi tersebar secara luas dalam perdagangan internasional. Negara-negara membiayai “official” exchange rates mereka dengan membeli dan menjual U.S. dollars dan memegang dollar sebagai primary reserve currency.
Adalah tidak berkorelasi antara devalue moneter standart emas dengan perbaikan krisis yang terjadi. Contohnya Britain, yang berusahan meninggalkan standart emas pada bulan September 1931, akhirnya mengalami recovery dalam waktu relatif cepat dibandingkan dengan Amerika Serikat yang melakukan devalue pada currency-nya hingga tahu 1933. hal yang sama terjadi di Amerika Latin yang sudah memulai devalue pada 1929 dan baru mencapai recovery pada tahun 1935. sebaliknya, negara“Gold Bloc”,  Belgia dan Prancis yang saat itu masih bertahan pada standart emas dan lambat pada proses devalue masih memiliki kemampuan berproduksi tahun 1929 sampai 1935.
Sistem moneter Bretton Woods nampaknya berhasil dalam menyediakan kembali dana segar tanpa harus terpaku kepada standart emas. Devaluasi Amerika Serikat kemudian diatasi dengan menurunkan interest rates dan memfokuskan pada ketersediaan kredit. Hal tersebut secara simultan me-recovery perekonomian Amerika Serikat. Disamping beberapa kebijakan era  Franklin D. Roosevelt , ikut berperan memperbaiki kesehatan ekonomi negara ini.[3]  Perkembangan positif perekonomian Amerika Serikat secara nyata dapat dilihat pada pertengahan tahun 1030an. Ketika GDP naik rata-rata 9 persen per tahun hingga tahun 1937. Amerika Serikat secara resmi keluar dari Great Depression pada tahun 1942. sementara British telah keluar dari kungkungan krisis sejak 1931. jerman, Jepang, Canada dan negara Eropa lainnya secara tuntas mengakhiri Great Depression pada tahun sesudahnya.
Dapat dijelaskan kembali bahwa, Jauh sebelum negara Asia Afrika merdeka setelah Perang Dunia II, negara Amerika Latin rata-rata telah lebih dulu merdeka sejak abad-19. Setelah peristiwa Great Depression 1930 dimana negara-negara kapitalis mulai berubah dari inward ke outward looking, negara-negara Amerika Latin malah lebih memilih untuk inward looking. Mereka menerapkan strategi perkembangan baru. Formula yang diadaptasi adalah nasionalisme ekonomi (Frieden,2006:302). Dengan formula ini maka mereka menutup perdagangan luar negeri untuk memenuhi pertumbuhan yang cepat di dalam negeri. Kemudian menyikapi keadaan yang ada pada tahun 1950an ketika pasar dunia jatuh, negara-negara Amerika Latin menganut kebijakan yang disebut import-substituting industrialization (ISI). Kebijakan ini ditujukan untuk menggantikan produksi industri dalam negeri untuk barang-barang yang sebelumnya telah diimpor (Frieden,2006:304). Dengan begitu diharapkan produksi yang ada semakin menguntungkan.
Untuk melakukan kebijakan ISI, menurut Frieden (2006) terdapat tiga komponen yang menyertai. Pertama negara melakukan hambatan yang tinggi terhadap perdagangan. Dampaknya kemudian adalah mahalnya barang-barang impor. Dalam beberapa kasus, impor malah dilarang (Frieden,2006:304). Kedua adalah pemerintah memberikan subsidi dan insentif bagi industri dalam negeri. Cara yang dilakukan dapat berupa memberi keringanan pajak, kredit murah, dan manipulasi mata uang. Ketiga pemerintah mengambil alih sebagian besar industri seperti industri rel kereta api, pelayaran, telepon, listrik, dll. Kebijakan ini kemudian telah mendorong pembangunan industri. Contohnya Meksiko yang meningkat empat kali lipat produksi industrinya pada 1945-1973, Brazil juga meningkat delapan kali lipat (Frieden,2006:305). Namun, sesungguhnya kebijakan ini (ISI) sangat tidak efisien karena harganya yang jauh diatas harga rata-rata dunia. Hal ini membuat barang menjadi kurang kompetitif di pasar.








DAFTAR PUSTAKA
Frieden, Jeffrey A., 2006. “Decolonization and Development” dalam Global Capitalism :It’s Fall and Rise in The Twentieth Century. New York:W.W. Norton&Co.Inc, pp.301-320.
Sundoro,hadi 2012.sejarah amerika serikat .jember:jember university press,

Mukmin, Hidayat. 1980. Pergolakan di Amerika Latin dalam Dasawarsa Ini. Jakarta: Ghalia Indonesia





           







 

Selasa, 27 Mei 2014

Diplomasi dan Perluasan Wilayah Amerika



BAB 1.PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Posisi terakhir Amerika Serikat sebagai sebuah superpower bukan dicapai secara tiba-tiba melainkan sebagai hasil dan proses yang panjang sejak Revolusi Amerika 1776 yang antara lain diperoleh melalui upaya-upaya diplomatik. Upaya tersebut dilakukan dengiin cara menjalin hubungan  dengan  bangsa-bangsa  lain  yang  didasari  atas  kepentingan  nasional  di  berbagai bidang. Sejak tahun 1776 sampai sekarang bangsa Amerika selalu berusaha untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya melalui upaya- upaya diplomatik untuk membentuk sebuah imperium besar yang berkuasa dan berpengaruh atas bangsa-bangsa lain di dunia.
Hasrat Amerika untuk memperluaskan wilayahnya ke arah barat memicu berkobarnya serangkaian peperangan dengan bangsa Indian. Pembelian Louisiana dari Perancis oleh Presiden Thomas Jefferson pada 1803 memperluas wilayah Amerika Serikat hampir dua kali lipat dari ukuran sebelumnya. Perang 1812 untuk menyingkirkan pengaruh Inggris semakin memperkuat nasionalisme Amerika Serikat. Serangkaian serangan militer AS ke Florida membuat Spanyol menyerahkan koloni-koloninya di Pantai Teluk kepada Amerika Serikat pada tahun 1819.
Pada awal abad ke-19 mereka telah mampu membangun sebuah imperium kontinental yang besar. Pada waktu yang relatif sama mereka telah mengembangkan imperium perdagangan di seluruh dunia, menggantikan posisi Portugal, Spanyol, Belanda dan Inggeris. Pada akhir abad ke-20 ini bangsa Amerika boleh bangga sebab mereka telah menjadi bangsa yang telah berpengaruh atas bangsa-bangsa di dunia, baik secara politik, ekonomi, militer dan budaya. Sejak berakhiraya perang dingin (cold-war) dan tumbangnya Uni Soviet pada awal tahun 1990-an. Sejarah perluasan wilayah Amerika Serikat selama kurang lebih dua ratus tahun dan tiga belas negara koloni sepanjang pantai timur Atlantik menjadi sebuah negara adidaya (superpower) pada abad ke-20 merupakan sebuah sejarah yang digambarkan oleh Gardner dkk (1973) sebagai "the most increadible secular story in human history" atau kisah yang sangat menakjubkan dalam sejarah umat manusia.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana perluasan wilayah Amerika Serikat sejak Abad-19 ?
2.      Bagaimana proses pembelian wilayah di Loisiana ?
3.      Bagaimana terjadinya aneksasi di Florida ?
4.      Bagaimana terjadinya aneksasi di Texas ?
5.      Bagaimana proses pembelian wilayah di Alaska ?

1.3  Tujuan

1.      Mengetahui jalannya perluasan wilayah Amerika Serikat sejak Abad-19.
2.      Mengetahui dan memahami proses pembelian wilayah di Loisiana.
3.      Mengetahui jalannya terjadinya aneksasi di Florida.
4.      Mengetahui jalannya terjadinya aneksasi di Texas.
5.      Memahami  proses pembelian wilayah di Alaska.









BAB 2. PEMBAHASAN

2.1         Perluasan Wilayah Amerika Serikat abad-19
              Perluasan wilayah sebenarnya telah dilakukan pada jaman kolonial. Pada jaman tersebut para pionir Amerika menjelajah ke  arah  barat  untuk  membuka lahan-lahan  baru  hingga ke pengunungan Appalachian. Setelah memperoieh kedaulatan tahun 1776, penjelajahan ke arah barat memperoieh percepatan karena didukung oleh negara-negara bagian di wilayah timur melalui upaya-upaya diplomatik ketika mereka berhadapan dengan kekuatan-kekuatan imperialis Eropa, seperti Inggeris, Perancis dan Spanyol. Negara-negara bagian di wilayah timur yang mengklaim wilayah dari pantai Atlantik sampai Sungai Mississippi harus berhadapan dengan orang-orang Indian yang didukung oleh kekuatan imperialis Barat. Untuk mengatasi hal tersebut pada  tahun  1794  komisi  khusus  yang  dipimpin  oleh  John  Kay,  melalui  upaya  diplomatik, berhasil menandatangani perjanjian dengan Inggeris. Dalam perjanjian tersebut Inggeris sepakat untuk tidak lagi mendukung orang-orang Indian di wilayah baratdaya. Perjanjian yang sama juga ditandatangani dengan Spanyol yang memungkinkan Amerika Serikat memperluas wilayahnya ke wilayah barat laut.Kejadian-kejadian dalam sejarah Eropa dan kawasan Karibia berpengaruh terhadap upaya diplomatik   Amerika   Serikat   dalam   perluasan   wilayahnya.   
              Pada   tahun   1800   Spanyol menyerahkan wilayah Lousiana, satu kawasan antara Sungai Missisippi dan Pegunungan Rocky, kepada Perancis. Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis yang telah berhasi! menguasai Spanyol di Eropa, bermaksud menggunakan wilayah Louisiana sebagai jalan untuk menjadikan Perancis sebagai kekuatan imperium di Amerika. Namun demikian, sebuah revolusi yang digerakkan oleh orang-orang kulit hitam di kepulauan Hispaniola (sekarang Haiti dan Santa Dominggo) merusak rencana  Napoleon  Revolusi  yang  dipimpin  oleh  Toussaint  L'Ouverture  dan  didukung  oleh 500.000 budak kulit hitam Haiti hampir berhasil memaksa 40.000 orang kulit putih pemilik budak untuk membebaskan perbudakan di Haiti. Napoleon se.gera mengirimkan pasukannya untuk meredam gerakan revolusi serta menduduki wilayah New Orleans dan menguasai wilayah Louisnana. Presiden Amerika Serikat, Thomas Jefferson, yang melihat kemungkinan semakin kuatnya ancaman Perancis bila tetap menguasai Lousiana, mengutus Jams Monroe ke Paris dan mendesak dutabesar (dubes) Amerika di Paris, Robert Livingstone, untuk berunding mengenai kemungkinan membeli wilayah Louisiana dari Perancis.
2.2         Pembelian Louisiana.
              Melihat kemungkinan semakin kuatnya dominasi imperialis Eropa, di Amerika, pemerintah Amerika Serikat, dibawah presiden Thomas Jefferson, berusaha untuk memperoieh wilayah Louisina dengan berbagai cara, Upaya diplomatikpun dilakukan dengan gencar untuk usaha tersebut. Hal tersebut dilakukan sebab Inggerispun, yang sedang bersaing dengan Perancis, berusaha memperoieh wilayah yang sangat kaya dengan sumber daya alam tersebut. Ketika Robert Livingstone," yang secara intensif melakukan upaya diplomatik, bertemu dengan menteri luar negeri Perancis, Talleyrand, sebuah tawaran menarik diberikan oleh menlu Perancis. "Apa yang akan Anda berikan kepada kami jika kami serahkan seluruh wilayah Lousiana? " tanya Talleyrand, dan dijawab oleh Livingstone dengan kesediaan untuk membayar empat juta dollar. "Terlalu murah", kata Talleyrand "Ajukan kembali proposal Anda dan temui saya besok” kata Talleyrand. Kurang dari tiga minggu kemudian perjanjian jual beli tersebut ditandatangani.
              Perancis  yang sedang berhadapan  dengan  Inggeris,  baik  di  Eropa dan  Amerika,  lebih  suka menyerahkan Louisiana kepada Amerika Serikat daripada kepada Inggeris, dan sepakat dengan harga 12 juta dollar atas wilayah pertanian yang sangat kaya tersebut. Dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat pembelian yang terjadi pada tahun 1803 tersebut dilatakan oleh Buckler (1993:977) sebagai "the greatest bargain in the U.S diplomatic history" atau sebagai jual beli yang paling menakjubkan dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat.
              Setelah memperoleh wilayah Lousiana, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan ancaman Inggeris yang masih menguasai Canada. Amerika Serikat juga membenci Inggeris yang merupakan saingat beratnya dalam perdagangan di kawasan Atlantik dan memonopoli barang- barang dagangan di kawasan tersebut. Orang-orang Amerika Serikat di kawasan barat menghendaki  diteruskannya  perang  dengan  Inggeris  yang  selalu  mengancam  kapal-kapal Amerika di lautan bebas. Persaingan dengan Inggeris tersebut mendorong dilakukannya pertimbangan diplomatik melalui   peperangan   dengan   negara  Eropa  tersebut.   Sikap  netral   AS   terhadap   masalah perdagangan luar negeri dengan negara-negara Eropa tidak sepenuhnya bisa diterapkan ketika negara  tersebut  memiliki  kepentingan  lain  di  daratan.
               Sikap  tidak  bisa  menjaga  kenetralan tersebut diterapkan oleh Presiden James Madison ketika hams berhadapan dengan  Inggeris. Perang tahun 1812 yang dikenal dengan War Hawks tersebut mengakhiri masalah Indian serta memberi jalan kepada para pioner-pioner Amerika untuk membuka lahan yang lebih luas di bagian barat. Perang tersebut diakhiri dalam Perjanjian Ghent di Belgia tahun 1814 berkat campurtangan Tsar Rusia yang sedang berusaha mendekati Inggeris dalam mengakhiri perang dengan Napoleon Bonaparte. Dalam perjanjian tersebut Amerika dan Inggeris sepakat untuk menjaga Great Lakes sebagai kawasan bebas militer, kebebasan bagi nelayah Amerika, Inggeris dan Canada untuk menangkap ikan di New Foundland dan Labrador serta persetujuan mengenai perbatasan baru antara Amerika Serikat dan Canada, dan dijadikannya kawasan Oregon sebgai daerah terbuka bagi orang Inggeris dan Amerika. Perjanjian dengan Inggeris tersebut menjadikan politik diplomasi Amerika Serikat sementara lebih berorientasi ke dalam dalam upaya merebut Florida serta menyatukan wilayah hingga ke pantai Pasifik.
2.3         Aneksasi Florida
              John Quincy Adams merupakan menteri luar negeri Amerika Serikat terpopuler dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat., Pelaksanaan politik luar negerinya menunjukkan semangat kesatuan nasional Amerika Serikat. Sebagai menlu di bawah Presiden baru, James Monroe (1817-1825) dan anak presiden AS kedua, Adams berusaha mengimplementasikan sentimen kesatuan nasional dalam politik luar negerinya yang inclependen. Aneksasi Florida dari Spanyol tercapai berkat kepiawaian upaya diplomatiknya. Dia mampu memadukan kebijaksanan luar negeri dengan kebijaksanaan dalam negeri.
              Pengalaman diplomasi di Paris, Ghent, St Peterburg, Negeri Belanda dan Prusia, dan penguasaan enam bahasa serta pemahaman mengenai karya- karya klasik Barat menjadikannya sebagai diplomat ulung. Setelah kembali dari Eropa tahun1817 dia memiliki pemahaman yang mendalam mengenai negara-negara Eropa yang merupakan saingan Amerika Serikat di benua Amerika. Sebagai penganut ajaran Calvin, dia percaya bahwa perluasan imperium Amerika tak dapat dihindari dan sangat penting untuk diperjuangkan.
              Untuk menghancurkan kepentingan Inggeris di benua Amerika Adams melalukan upaya diplomatik serta penetrasi militer terhadap pelabuhan-pelabuhan dagang di West Indies yang dimiliki Inggeris. Melalui upaya diplomatik yang gencar serta dukungan para pedagang Amerika maka Inggeris membuka pelabuhan-pelabuhannya di daerah koloninya itu. Keberhasilan tersebut merupakan langkah awal bagi upaya menghancurkan imperium Inggeris di benua Amerika serta upaya  penghancuran  imperium  kolonial  di  benua  tersebut.  Adams  yakin  bahwa 
              Revolusi Amerika merupakan pertanda awal untuk mengakhiri kolonialisme Eropa di Amerika serta membangun imperium. Amerika Serikat yang berkuasa di daratan dan di lautan. Untuk menyatukan seluruh kontinen Amerika Utara dibawah Amerika Serikat, Adams harus  mendekati  imperium  Eropa  yang  masih  bercokol  di  wilayah  tersebut  Salah  satu  di antaranya  adalah  Spanyol  yang  masih  menguasai  Frorida  Timur.  Florida  Barat  diperoleh Amerika  Serikat  dalam  Perjanjian  Ghent  tahun  1812.  Dalam  perundingan  dengan  menlu Spanyol, Luis de Onis, tahun 1818 dan 1819, masalah Florida masih terkatung-katung.
Dalam menghadapi tindakan agresi Amerika, Spanyol meminta bantuan Inggeris. Namun demikian, Inggeris menolak untuk ikut campur. Inggeris melihat bahwa perpecahan imperium Spanyol di Amerika dapat membuka jalan bagi pedagang-pedagang Inggeris. Adams memanfaatkan kenetralan Inggeris untuk merebut seluruh wilayah Florida serta Texas. Pada bulan Februari 1819 menlu Spanyol, Onis, sepakat untuk menandatangani perjanjian dengan Adams yang berisi: penyerahan Florida Timur kepada AS; pengakuan atas kedudukan AS di Florida Barat, membatalkan klaimnya atas Oregon serta jalur pelayaran menuju Sungai Mississippi kepada AS; serta perbatasan bam sepanjang 42 derajat lintang utara sampai Sungai Sabine, Red and Arkansas hingga ke Pasifik. Sebaliknya AS harus melapaskan tuntutannya atas Texas dan membayar lima juta dollar yang diklaim warga AS atas Spanyol. Penyerahan Florida oleh Spanyol tersebut antara lain untuk melindungi kepentingannya yang lebih luas di Mexico.

2.4     Aneksasi Texas
Aneksasi Texas dari Mexico tahun 1845 dilatarbelakangi oleh kondisi Texas sebagai tempat migrasi besar-besaran warga AS ke kawasan tersebut. Di Texas, kaum migran AS mengolah lahan pertanian untuk memproduksi katun dan gula. Hasil pertanian tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan penduduknya dan menjadi penyumbang cukup besar bagi perekonomian  Texas.  Penduduk  AS  yang  merasa  tidak  suka  dengan  pemerintahan  Mexico

dibawah presiden Santa Anna mampu melepaskan diri dari Mexico dan kemudian mendirikan Republik Texas tahun 1836. Republik baru tersebut berada di bawah protektorat Inggeris yang merupakan saingan AS di benua Amerika. Dengan demikian, AS sangat berkepentingan dengan Texas.
Amerika Serikat menawarkan aneksasi pada Texas untuk menjadi koloni mereka, hal yang kemudian ditentang oleh Meksiko yang menyatakan bahwa setiap bentuk aneksasi terhadap Texas sama dengan alarm untuk perang. Terutama setelah presiden John Tyler pada awal tahun 1845 menandatangani Joint Resolution oleh Kongres untuk membuat Texas menjadi bagian dari Uni Amerika. Namun, Inggris dan Perancis yang memiliki kepentingan ekonomi di negara Texas berusaha mengancam kedua negara baik AS dan Meksiko untuk membiarkan Texas menjadi negara merdeka. Bahkan delegasi mereka membujuk Presiden Texas Anson Jones untuk menandatangani perjanjian agar tidak dianeksasi oleh Amerika Serikat dan berjanji menekan Meksiko untuk mengakui kemerdekaan Texas. Hal ini sendiri ditolak oleh pemerintah Texas yang merasa negaranya sudah bangkrut dan sudah waktunya bagi mereka untuk bergabung dengan Amerika Serikat.
Hal ini didukung oleh ambisi presiden baru Amerika Serikat, James K. Polk yang ingin memperluas daerah mereka dengan berencana membeli ribuan lahan dari meksiko serta Inggris untuk negara bagian Oregon. Polk sendiri mengirim utusannya, John Slidell ke Mexico City untuk membeli lahan Meksiko dari Texas hingga Pasifik sebesar 25.000 Dollar AS. Hal ini tentu saja ditolak oleh pemerintah Meksiko yang bahkan mengusir Slidell.
Namun, pada akhirnya pada tanggal 29 Desember 1845, Texas memproklamirkan diri sebagai negara bagian Amerika Serikat ke-28 dan menjadi negara bagian ke-15 yang melegalkan pemerintahan. Dan pemerintahan Polk sendiri langsung mengutus Jendral Zachary Taylor untuk mengamankan wilayah selatan dimana kedatangan pasukan Taylor sendiri langsung disambut 6.000 tentara Meksiko dibawah pimpinan Jendral Pedro de Ampudia. Peperangan pun semkain tak terhindarkan ketika Slidell memutuskan kembali ke Amerika
Peperangan ini sendiri berlangsung selama 2 tahun, dimana Amerika Serikat sendiri begitu mendominasi peperangan ini. Peperangan yang berlangsung dari Palo Alto, California hingga Molino del Rey, Meksiko ini pada akhirnya dimenangi oleh Amerika Serikat. Sebanyak 138 prajurit A.S. tewas dan 673 prajurit terluka. Sedangkan jumlah prajurit Meksiko yang tewas, terluka maupun hilang berjumlah 1.800 prajurit. Otoritas Meksiko sendiri mengibarkan bendera putih pada tanggal 14 September 1847 di Mexico City.
Tanggal 2 Februari 1848. Perjanjian Hidalgo ditandatangani dan kemudian diratifikasi oleh Senat A.S. pada tanggal 10 Maret 1848.Wilayah Meksiko sendiri sesuai perjanjian ini berkurang sekitar 4.400.000 Km dimana wilayah Meksiko berkurang 55% dari total wilayah mereka sebelum perang termasuk Texas. Dan Amerika Serikat sendiri mendapat tambahan wilayah baru yaitu New Mexico, California dan Arizona serta sebagian wilayah Utah dan Nevada. Namun kerugian Finansial sebesar 100 Juta Dollar AS juga dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia. Walau banyak pula yang menganggap itu tidak sebanding dengan kebanggaan Amerika Serikat mampu merebut wilayah Meksiko. Mengingat ini adalah perang pertama Amerika Serikat sebagai negara muda di tanah asing dan berakhir sebagai kemenangan.
2.5     Pembelian Alaska
Pada 30 Maret 1867, perjanjian jual beli tanah milik Rusia di Amerika Serikat telah ditandatangani di Washington.. Tetapi situasi saat itu sangat kritis, bahkan bisa saja Rusia tidak mendapatkan apa-apa. Penyerahan resmi wilayah itu dilaksanakan di Novoarkhangelsk. Tentara Amerika dan Rusia berbaris di sekitar tiang bendera. Bendera Rusia diturunkan sambil diiringi penghormatan senapan. Tetapi bendera tersebut terbelit dan tersangkut di tiang. Seorang pelaut harus memanjat tiang itu dan melemparnya ke bawah, tetapi bendera tanpa sengaja mendarat tepat di ujung bayonet tentara Rusia.
Setelah itu Amerika mulai menduduki bangunan kota yang diganti namanya menjadi Sitka. Ratusan warga Rusia yang memutuskan tidak menerima kewarganegaraan Amerika Serikat, terpaksa harus dievakuasi menggunakan kapal dagang dan sampai ke tanah air di tahun selanjutnya. Belajar dari pengalaman selama perang saudara, Amerika Serikat berusaha untuk meluaskan pengaruhnya ke negara-negara di sekitarnya. Dengan memperluas pengaruhnya terhadap negara-negara di sekitarnya, otomatis Amerika Serikat memiliki sekutu bila negaranya diserang.
Negara-negara di sekitarnya tidak akan menjadi “musuh dalam selimut,” seperti Mexico yang dikuasai Prancis saat terjadi perang saudara, dimana Amerika Serikat, dalam hal ini Union, takut Prancis akan ikut campur karena letaknya sangat dekat dengan Amerika Serikat. Kondisi jaman pada masa itu juga mendukung Amerika Serikat untuk meluaskan pengaruhnya, terutama pengaruh ekonominya. Saat itu, negara-negara Eropa berusaha untuk memperluas pengaruhnya dengan saling berebut menguasai negara-negara di Afrika dan menguasai perdagangan di Asia. Keinginan dari Amerika Serikat untuk memperluas pengaruh ke negara-negara sekitarnya juga diperkuat oleh angkatan lautnya yang merasa perlu minta tambahan dana untuk memperkuat armadanya yang nanti digunakan untuk menjaga keamanan ekonomi dan politik di negara-negara sekitar Amerika Serikat. Bila melihat kebelakang lagi, keinginan Amerika Serikat untuk memperluas pengaruh ke negara-negara sekitarnya adalah adanya pemikiran ‘Manifest Destiny” dan “City Upon a Hill”, dimana artinya Amerika Serikat harus menjadi panutan dan pemimpin bagi masarakat sekitarnya. Kedua doktrin ini dijadikan sebagai alasan Amerika Serikat melakukan perluasan pengaruh dan pembenaran terhadap hak dan kewajiban Amerika Serikat memperluas pengaruh dan kebudayaannya di benua Amerika, Karibia, dan juga Pasifik.
Usaha perluasan pengaruh Amerika Serikat pertama dimulai dengan membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867 atas usul William Seward, menteri luar negeri Amerika Serikat saat itu. Alaska sangat luas, bahkan menjadi negara bagian terluas di Amerika Serikat, tapi sepi dan hanya berisi gunung es yang luas, sehingga banyak orang mencemooh keputusan membeli Alaska. Walau begitu, setelah ditemukannya banyak emas di sungai Klondike, banyak orang pergi dan menetap di Alaska.



                                                 












BAB 3. PENUTUP
3.1 Simpulan
Sejarah  diplomasi  Amerika  Serikat  pada  akhir  abad  ke!8  dan  sepanjang  abad  ke l9 ditandai dengan upaya perluasan wilayah ke arah barat. Upaya diplomatik dilakukan terhadap negara-negara Eropa yang telah lebih dahulu menguasai wilayah Amerika utara seperti Inggeris, Perancis, Rusia dan Spanyol. Sejak tahun 1776 sampai sekarang bangsa Amerika selalu berusaha untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya melalui upaya-upaya diplomatik untuk membentuk sebuah imperium besar yang berkuasa dan berpengaruh atas bangsa-bangsa lain di dunia. Pada awal abad ke-19 mereka telah mampu membangun sebuah imperium kontinental yang besar. Pada waktu yang relatif sama juga mereka telah mengembangkan imperium perdagangan di seluruh dunia, menggantikan posisi Portugal, Spanyol, Belanda dan Inggeris.
Upaya diplomatik untuk memperluas wilayah tersebut dilakukan terhadap negara-negara Eropa yang berkepentingan dengan daratan Amerika, baik Amerika Utara maupun Amerika Latin. Dengan upaya diplomatik yang gencar beberapa negara bagian (koloni) digabungkan ke dalam "imperium" AS dengan cara membeli seperti yang terjadi pada kasus Louisiana. Koloni lainnya digabung dengan cara perundingan seperti antara lain dalam Perjanjian Transcontinental dan Guadalupe Hildadgo serta melalui peperangan dengan Mexico. Dukungan politik, ekonomi dan militer serta kecakapan para diplomat dan pemimpin AS dalam melakukan offensive diplomasi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan diplomasi mereka terhadap negara-negara yang dijadikan sasaran diplomasi.





Daftar Pustaka

Sundoro,hadi 2012.sejarah amerika serikat .jember:jember university press

Wood, Gray. Garis Besar Sejarah Amerika